Ahli bijak berkata, “Zuhud itu mengandung lima hal, iaitu:

1. percaya sepenuhnya kepada Allah
2. meninggalkan semua yang dapat melalaikan Allah
3. ikhlas dalam beramal
4. sabar ketika dizhalimi orang lain dan
5. qana’ah terhadap rezeki yang diterima”

Yahya bin Muadz berkata, “Seseorang tidak akan bisa mencapai tingkat zuhud yang sempurna kecuali ia telah memiliki tiga faktor dasar, iaitu:

1. beramal semata-mata kerana Allah
2. berkata tanpa ada kecenderungan rakus terhadap harta keduniaan, dan
3. mulia tanpa memiliki keduniaan”

Adapun yang dimaksud dengan zuhud yang sebenarnya adalah seperti yang disabdakan Rasulullah SAW:

“Zuhud terhadap dunia itu bukanlah mengharamkan yang halal, juga bukan menyia-nyiakan harta, tetapi zuhud itu adalah engkau tidak menggantungkan diri pada sesuatu yang ada pada dirimu, tetapi lebih percaya pada sesuatu yang ada di tangan Allah. Juga lebih banyak mengharapkan pahala sewaktu menerima musibah dan engkau lebih senang menerima musibah sekalipun musibah itu menimpa selama hidupmu (sebab pahalanya besar)” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Abu Dzar)

Rasulullah SAW juga bersabda: “Zuhud adalah mencintai sesuatu yang dicintai Allah dan membenci sesuatu yang dibenci Allah, meninggalkan harta yang halal sebagaimana meninggalkan harta yang haram, sebab yang halalnya pasti dihisab sedangkan yang haramnya pasti akan membuahkan seksa; menyayangi sesama orang Islam sebagaimana menyayangi diri sendiri; memelihara diri dari ucapan yang tidak bermanfaat sebagaimana memelihara diri dari ucapan yang haram; memelihara diri dari banyak makan sebagaimana memelihara diri dari makan bangkai yang amat busuk; memelihara diri dari aneka macam kesenangan dunia dan perhiasannya sebagaimana memelihara diri dari panasnya api; dan tidak panjang angan-angan, inilah erti zuhud yang sebenarnya” (HR Dailami)

Syekh Junaid berkata, “Yang disebut zuhud adalah hati selalu merasa redha sekalipun usahanya gagal”

Sufyan Ats Tsauri berkata, “Zuhud adalah tidak panjang angan-angan dalam urusan duniawi, bukan mengkonsumsi makanan yang tidak enak dan bukan pula mengenakan pakaian yang sangat sederhana”

Orang yang zuhud tentu tidak akan bangga dengan keduniaan yang dimilikinya, juga tidak akan meratapi apa yang luput darinya.

Sebahagian ahli ibadah berkata dalam munajatnya sebagai berikut:

“Wahai Tuhanku,

1. panjang angan-angan telah membuatku tertipu;
2. kecintaanku kepada dunia telah membuat diriku sengsara;
3. setan-setan telah menyesatkanku;
4. nafsu amarah telah memerintahkanku untuk berpaling dari kebenaran dan kejujuran serta melarangku berbuat baik;
5. teman yang jahat telah membantuku untuk berbuat maksiat

Namun demikian, tolonglah aku wahai Dzat yang selalu memberikan pertolongan kepada mereka yang memohonnya. Jika Engkau tak berkenan mencurahkan rahmat kepadaku, siapa lagi yang dapat mencurahkan rahmat kepadaku selain Engkau?”

Allah SWT telah mengecam panjang angan-angan sebagaimana firmanNya:
“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)” (QS Al Hijr (15): 3)

Berkaitan dengan hubbud dunya (cinta dunia) Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang hatinya telah dilapisi kecintaan duniawi, maka ia akan selalu diliputi oleh 3 hal iaitu: kesengsaraan yang tidak ada habisnya, rakus yang tidak berkesudahan, dan angan-angan yang tidak ada ujungnya.” (HR Thabrani)

Ali ra berkata, “Yang aku khawatirkan terhadap kalian adalah dua hal iaitu mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan, sebab mengikuti hawa nafsu akan menghalangi dari kebenaran, sedangkan panjang angan-angan akan menyebabkan lupa akhirat.”

“Jangan engkau bertanya tentang identiti seseorang, tetapi tanyakan siapa teman dekatnya sebab setiap teman itu suka mengikuti perbuatan orang yang ditemaninya”

(Nashaihul Ibad, Imam Nawawi al Bantani, IBS, 2005)

About these ads