Ada beberapa petanda yang apabila terdapat dalam diri seorang hamba atau hamba yang bersangkutan merasakannya, maka hal itu menunjukkan bahawa Allah mencintainya.

  1. Pengaturan Allah yang baik kepadanya.

Dia telah mendidiknya sejak kecil dengan tatanan yang terbaik. Allah telah menetapkan iman dalam kalbunya dan memberikan penerangan pada akalnya sehingga dia berhak mendapat kecintaan dari Nya dan memprioritikannya hanya untuk beribadah kepadaNya. Dia menyibukkan lisannya dengan berdzikir kepadaNya dan menyibukkan seluruh anggota tubuhnya dengan amal ketaatan serta selalu mengikuti semua yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Allah menjadikannya bersikap antipati dengan segala sesuatu yang menjauhkan dirinya dari Allah. Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba yang dicintaiNya ini dengan memudahkan segala urusan tanpa merendahkan dirinya kepada makhluk.

  2. Menjadikan orang yang dicintainya dapat diterima di kalangan penduduk bumi.

Abu Hurairah ra menceritakan bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah apabila mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berfirman, “Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia!”, maka Jibril pun mencintainya, kemudian berseru di langit (kepada penghuninya) seraya mengatakan, “Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia oleh kalian.” maka semua penduduk langit pun mencintainya, kemudian diletakkanlah kecintaan kepadanya di kalangan penduduk bumi. Sebaliknya, apabila Allah membenci seorang hamba. Dia memanggil Jibril, lalu berfirman: “Sesungguhnya Aku membenci si Fulan, maka bencilah dia!”. Jibril pun membencinya, kemudian Jibril berseru di kalangan penduduk langit, “Sesungguhnya Allah membenci si Fulan, maka bencilah dia oleh kalian.” maka mereka pun membencinya kemudian diletakkanlah kebencian terhadapnya di muka bumi.” (HR Bukhari dan Muslim)

  3. Allah menimpakan cubaan kepadanya.

Anas ra telah mengatakan bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya besar pahala mengikuti pada besarnya cubaan. Sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, pasti Dia menimpakan cubaan Nya kepada mereka. Barangsiapa yang redha, dia akan mendapat keredhaanNya dan barang siapa yang marah, maka dia akan mendapat murka-Nya.”

  Allah menimpakan cubaan kepada mereka dengan berbagai macam ujian hingga membersihkan mereka dari dosa-dosa.

  “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ehwalmu.” (QS Muhammad (47): 31)

  Cubaan akan ditimpakan oleh Allah kepada seorang hamba sesuai dengan kadar keimanan dan kecintaannya kepada Allah, sebagaimana yang dipertanyakan Sa’ad bin Abu Waqqash ra, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cubaannya? Rasulullah SAW menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang yang di bawahnya lagi. Seorang hamba akan diuji sesuai dengan kemampuan agamanya, apabila agamanya kuat, maka cubaannya kuat pula, dan jika dalam agamanya terdapat kerapuhan, maka dia mendapat cubaan sesuai dengan kemampuan agamanya. Cubaan tiada hentinya akan mendera seorang hamba hingga membiarkannya berjalan di muka bumi, sedang dia tidak mempunyai suatu dosa pun.” (HR Tirmidzi dinilai shahih oleh Al Albani).

  4. Meninggal dunia dalam keadaan sedang mengerjakan amal shalih, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah apabila menyukai seorang hamba, Dia akan membuatnya seperti madu. Para sahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan membuatnya seperti madu?” Beliau menjawab, “Memberinya taufiq untuk mengerjakan amal shalih sebelum ajal datang menjemputnya hingga semua tetangga dan orang-orang yang ada di sekitarnya redha kepadanya.” (HR Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Mahabbah (cinta) adalah suatu kedudukan yang di dalamnya
bersaing banyak orang untuk memperebutkannya
Hanya tertuju kepadanyalah orang-orang yang beramal
memusatkan perhatian mereka
Demi untuk meraih ilmu mengenainya
orang-orang yang paling terdahulu
menyingsingkan lengan bajunya
Dan oleh kerananyalah,
orang-orang yang dimabuk cinta melupakan segalanya
Dan berkat keharuman hembusannya,
orang-orang ahli ibadah bersemangat
dalam mengerjakan ibadahnya
Mahabbah (cinta) adalah konsumsi kalbu manusia,
santapan ruhani mereka, kesejukan hati mereka,
kesenangan jiwa mereka, cahaya akal,
dan kesejahteraan batinnya
Dan mahabbah (cinta) adalah tujuan semua cita-cita
kesudahan semua harapan
jiwa kehidupan, dan kehidupan jiwa

 

 (Sumber: Silsilah Amalan Hati (3): Tafakur, Mahabbah, Taqwa, Wara’; Muhammad bin Shalih Al Munajjid, IBS, 2005)

About these ads