Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Kewajiban bagi seorang muslim dalam menafsirkan Al-Qur’an adalah hendaknya ketika menafsirkan Al-Qur’an ia merasa dirinya adalah penterjemah Allah ta’ala, sebagai saksi atas-Nya tentang apa-apa yang Dia kehendaki dari kalam-Nya; sehingga dia mengagungkan persaksian ini dan takut mengatakan tentang Allah tanpa ilmu, kerana hal itu biasa mengakibatkan dia terjerumus kepada hal-hal yang Allah haramkan yang biasa membuatnya hina di hari kiamat nanti. Allah ta’ala telah berfirman :

قُلْ إِنّمَا حَرّمَ رَبّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

 

Katakanlah : “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-A’raf : 33).

Allah ta’ala berfirman :

وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى اللّهِ وُجُوهُهُم مّسْوَدّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنّمَ مَثْوًى لّلْمُتَكَبّرِينَ

”Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?” (QS. Az-Zumar : 60).