Oleh: K.H. Abdullah Gymnastiar

Hai orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembahNya.“(Q.S. Al Baqarah: 172) Aktivitas makan ternyata boleh menjadi jalan bagi seseorang untuk mengenal dan lebih akrab dengan Allah Azza wa Jalla, namun boleh juga menjadi jalan baginya dekat pada hawa nafsu. Bagi hamba Allah yang telah memahami hakikat makan, tatkala makanan masuk ke dalam perutnya, ia akan memperoleh dua keuntungan, yakni terpenuhinya hak tubuhnya sekaligus melunakkan hawa nafsunya. Dengan demikian, makan baginya telah menjadi ladang amal saleh. Sebaliknya, bagi siapa saja yang tidak mengerti arti hidup ini, maka baginya makan tak lebih dari sekedar memuaskan hawa nafsu belaka. Dengan demikian, makan, tidak boleh tidak, telah menjadi virus yang tanpa ia sadari akan menggerogoti hatinya, sehingga menjadi hancur sehancur-hancurnya.

Jelas bagi orang semacam ini aktivitas makan hanya akan semakin menjauhkan dirinya dari karunia Allah. Barangsiapa yang ingin memliki hati yang sehat dan memelihara kebeningannya, hendaknya senantiasa menjaga kehati-hatian ketika menghadapi suatu hidangan. Ia tahu persis makna firman Allah Azza wa Jalla, Hai orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah-Nya.” (Q.S. Al Baqarah: 172). Karenanya, ia hanya mau makan apabila hal itu telah menjadi alat taqarrub kepada Allah. Betapa ia menyadari, bahawa aktiivitas makan itu ternyata bukanlah sekadar untuk mengenyangkan perut, lalu berdampak pulihnya kembali tenaga didalam tubuh. Makanpun bukan sekedar mengecap kenikmatan karena toh nikmatnya makan itu hanya “sepanjang telunjuk” jaraknya dari bibir. Begitu makanan lewat dari tenggorokan, maka tidak akan terasa lagi nikmatnya. Jadi kalau demikian, apalah artinya makan kalau hanya sebatas untuk pemenuhan kebutuhan lahir belaka? Orang yang paling bodoh di dunia ini adalah orang yang telah tertipu oleh aktivitas makan. Padahal makan bagi seorang mukmin adalah amal ibadah, bukan malah untuk menghancurkan ibadah.

Bagi yang ingin memiliki hati yang bersih, ia baru mau menyantap suatu hidangan bila jelas-jelas meyakini kehalalannya. Sebab, satu kali makanan haram masuk ke dalam perut, empat puluh hari amal ibadahnya tidak diterima. Kalau menjadi daging, maka haramlah ia masuk surga. Berdoa dengan bersimbah airmata dan di tempat ijabah sekalipun, tidak akan pernah terkabulkan. Padahal, doa adalah senjata seorang mukmin. Oleh sebab itu waspadalah dengan makanan karena biasanya timbulnya hal-hal yang dapat menurunkan kualitas keimanan, seperti tidak sanggup bertahajud, tidak khusyuk dalam beribadah, tumpulnya otak, tidak terkabulkan doa, dan lain-lain, ternyata itu semua diakibatkan oleh masalah perut. Setelah terbebas dari makanan haram, berhati-hatilah dengan kemungkinan memakan makanan secara berlebihan. Makanan yang berlebihan akan mengundang aneka macam akibat buruk. Ia akan menjadi jalan bagi tergelincirnya anggota-anggota tubuh ke jurang kemaksiatan.

Tidak usah heran kalau mata akan sulit dipakai untuk membaca firman-firman Allah. Tangan akan teramat berat dipergunakan untuk menolong sesama yang membutuhkan bantuan, menyantuni yang lemah, dan memberi sedekah di jalan Allah. Tangan akan teramat berat dipergunakan untuk menolong sesama yang membutuhkan bantuan. Menyantuni yang lemah, dan memberi sedekah di jalan Allah. Mulut akan teramat sungkan berbicara tentang kebaikan dan mengajak orang ke jalan kebenaran. Telinga menjadi malas sekali untuk mendengarkan ajakan menuju ampunan dari Dzat yang Maharahman. Kaki pun akan sangat enggan dilangkahkan menuju majelis-majelis keilmuan yang membicarakan indahnya hidup dalam pelukan iman dan Islam. Ditambah lagi, na’udzibillaah, hati dan pikiran pun akan terlalaikan dari dzikir, mengingat Allah Azza wa Jalla! Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah seseorang mengisi wadah yang lebih daripada perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suapan saja untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak mungkin demikian, maka hendaklah sepertiga dari perutnya diisi makanan, sepertiga dengan minuman, dan sepertiga lagi untuk pernafasan.” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi) Rasulullah sendiri beserta para sahabatnya, tulis DR. Ahmad Faridh dlam kitabnya, Tazkiyat An-Nufus, sering menanggung lapar. Walaupun itu disebabkan tidak adanya makanan yang dapat dimakan, tetapi Allah SWT tidak akan memilih dan menjadikan suatu keadaan untuk Rasul-Nya, kecuali yang paling sempurna dan paling baik. Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang makan roti tarr tiga malam berturut-turut dalam hidupnya sampai beliau wafat,” kata Aisyah r.a. (H.R. Bukhari-Muslim) Karenanya, barangsiapa ingin senantiasa terpelihara kebeningan hatinya, hendaklah ia makan dengan tidak berlebihan. Makanlah secukupnya, insya Allah akan melembutkan hati serta membuat terkendalinya hawa nafsu.

Sedangkan hawa nafsu adalah perangkat dari Allah agar seseorang mendapatkan pahala sekiranya hawa nafsu itu tunduk kepada pemiliknya. Perut dengan demikian, sangat dekat dengan hawa nafsu. Padahal, hawa nafsu justru yang menjadi penyebab utama sesat dan mengerasnya hati. Hawa nafsu pula yang menjadi pangkal dari semua maksiat, kelalaian dan tak terpeliharanya syahwat. Hawa nafsu pun merupakan ladang bagi tersemainya sifat tamak. Dan, tidak bisa tidak, Tak akan berkembang biak aneka cabang kehinaan itu, kecuali diatas bibit tamak.” (Kitab Al-Hikam) Akhirul kalam, ada baiknya kita camkan perkataan seorang sufi, Ibrahim bin adham. “Barangsiapa yang memelihara perutnya dengan sebaik-baiknya,” tuturnya, “berarti ia telah memelihara agamanya dengan baik. Barangsiapa yang mampu mengendalikan rasa laparnya, ia akan memiliki akhlak yang mulia dan tinggi. Karena, maksiat kepada Allah jauh dari orang yang lapar dan dekat dengan orang yang selalu kenyang.” Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan dan berlindung dari jahatnya hawa nafsu karena makanan.