Oleh: Muhammad Lazuardi Aljawi

Beberapa Sikap Keliru Terhadap alQuran

1. Diperingati turunnya, tetapi diabaikan isinya.

Sudah menjadi tradisi, setiap bulan Ramadhan, turunnya al-Quran dirayakan secara seremonial. AI-Quran dibaca dan didendangkan dengan merdu di arena MTQ, tadarusan al-Quran juga marak, dsb.
Namun sayang, aktiviti tersebut tidak diikuti dengan pemahaman atas maksud diturunkannya al-Quran. AI-Quran yang diturunkan sebagai solusi (penyelesaian) atas persoalan yang dihadapi oleh umat manusia, justru dijauhkan dari kehidupan. Sebagai implikasinya, isi alQuran diabaikan. Pengabaian terhadap isi kandungan al-Quran dapat berbentuk menolak untuk membenarkannya; tidak mentadabburi dan memahaminya; serta tidak mengamalkan dan mematuhi perintah dan larangannya.

2. Dibaca, tetapi tidak dipahami dan diamalkan.

AI-Quran adalah kalamullah yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi saw., yang diriwayatkan secara mutawatir dan membacanya tergolong ibadah. Memang benar, bagi seorang Muslim, sekadar membacanya saja berpahala. (Lihat: QS al-Fathir [35]: 29).

Akan tetapi, yang dituntut oleh Islam selanjutnya adalah penerapan atas apa yang dibaca. Sebab, al-Quran bukan kumpulan pengetahuan semata, tetapi petunjuk hidup bagi manusia. AI-Quran tidak hanya sekadar dibaca dan dihafalkan saja, melainkan harus difahami dan diamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari. Nabi saw. bersabda:

Aku telah meninggalkan dua perkara; jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, iaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya (HR Malik).

3. Diakui sebagai pedoman hidup, tetapi tidak dijadikan sebagai sumber hukum untuk mengatur kehidupan.

Biasanya, sering kita mengatakan atau mendengar bahawa al-Quran berfungsi sebagai pedoman hidup. Namun, al-Quran juga sering hanya diambil aspek moralnya saja dan tidak dijadikan sebagai sumber hukum untuk mengatur kehidupan. Padahal Allah Swt. telah berfirman:

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeza antara yang haq dan yang batil. (QS al-Baqarah [2]: 185).

Sayang, kebanyakan kaum Muslim sekarang ini tidak acuh terhadap al-Quran. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang mengibarkan, peperangan terhadap al-Quran. Mereka cuba menakwilkan dan mengubah-ubah isi al-Quran yang telah jelas maknanya. Mereka berusaha menundukkan al-Quran agar sesuai dengan hawa nafsu mereka. Tak henti-hentinya mereka mendiskreditkan hukum-hukum agung yang lahir dari al-Quran.

Bahkan, sebahagian besar di antara mereka lebih mencintai dan bekerja keras dalam mengupayakan terwujudnya cita-cita demokrasi, sekularisme dan HAM dari Barat dibandingkan dengan mencintai dan bersungguh-sungguh mewujudkan cita-cita Islam yang terkandung di dalam al-Quran. Padahal, demokrasi adalah ideologi prasejarah (sebelum Masehi) yang jelas-jelas bertentangan dengan fitrah manusia.

Demikian juga HAM. la adalah alat politik orang kafir untuk mengebiri dan memasung ajaran al-Quran. Di samping itu, HAM menyebarkan kebebasan yang sangat rendah, bahkan lebih rendah daripada binatang.

Pada hakikatnya, orang yang menolak aturan-aturan Allah dan menggantinya dengan hukum-hukum buatan Barat adalah orang yang mendustakan dan menyombongkan dirinya di hadapan ayat-ayat-Nya. Orang-orang semacam ini tidak mungkin dapat masuk syurga Allah, sebagaimana tidak mungkinnya unta masuk ke lubang jarum. Allah Swt. berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit (ampunan) dan mereka tidak pula akan masuk syurga hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah kami membalas orang-orang yang berbuat kejahatan. (QS al-A’raf [7]: 40).

AI-Quran adalah sumber hukum yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Kerana itu, yang seharusnya terbayang dalam benak kita adalah bagaimana kita menjalankan Islam saja, sebagaimana firman-Nya:

Siapa saja yang menjadikan selain Islam sebagai din (agama, sistem hidup) maka tidak akan diterima apapun darinya dan dia di akhirat termasuk orang yang merugi. (QS Ali Imran [3]: 85).

Allah Swt. juga berfirman:

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50).

Dari dua ayat di atas nampak jelas bahawa kita diminta untuk berhukum pada apa saja yang telah Allah Swt syariatkan melalui AlQuran dan al-Hadits; bukan sepotong sepotong, tetapi seluruhnya.

4. Dijaga fiziknya dari pemalsuan, tetapi tidak dijaga kandungannya dari berbagai penyimpangan.

Allah Swt. telah berjanji akan menjaga ketulinan al-Quran dari segala bentuk pemalsuan, sebagaimana firman-Nya:

Kamilah yang telah menurunkan al-Quran dan Kami pula yang akan menjaganya. (QS al-Hijr [ 15]: 9).

Namun, tugas dan tanggung jawab umat Islam tidak terbatas hanya menjaga ketulinan al-Quran. Umat Islam juga harus menjaga kandungannya dari berbagai penyimpangan, seperti menjaga al-Quran dari penafsiran liberal yang malah menodai kesucian al-Quran.

Mengapa Bisa Terjadi?

Ada beberapa sebab mengapa semua hal itu dapat terjadi, di antaranya:

1. Masuknya fahaman sekular.

Salah satu alasan mengapa umat keliru dalam menyikapi al-Quran adalah masuknya gagasan-gagasan yang bersumber dari ideologi Kapitalisme-sekular ke dalam benak kaum Muslim dalam berbagai level. Dilihat dari bahan dasarnya, sekularisme berangkat dari anggapan bahawa manusia dapat mengatur diri mereka sendiri.

Pada level masyarakat kebanyakan, Islam telah lama dikenalkan hanya sebagai agama ritual dan spiritual belaka, terutama di dunia pendidikan, sejak level dasar hingga perguruan tinggi. Padahal al-Quran telah mengajarkan keyakinan bahawa manusia tidak dapat mengatur diri mereka sendiri tanpa bantuan aturan yang datang dari sang Pencipta. Perlu digaris-bawahi bahawa kekuatan Islam sebenarnya terletak pada kekuatan otoriti ajaran (wahyu al-Quran). Ini bererti, bahawa sejak awal sekularisme telah bertentangan dengan Islam, dengan al-Quran.

Di sisi lain, idea-idea keturunan sekularisme seperti pascamodernisme yang menjadikan relativisme dan pluralisme sebagai paradigma berfikir serta hermeneutika sebagai method penafsiran telah mempengaruhi cara berfikir sebahagian kalangan intelektual muslim modernisliberal yang telah ter-Barat-kan. Dengan idea-idea tersebut mereka menancapkan keragu-raguan terhadap ketulinan dan validiti al-Quran sebagai wahyu yang bersumber dari Zat yang Mahabenar, yakni Allah Swt. Kerana itu. mereka cuba menyerukan gagasan desaklarisasi alQuran’. Bagi mereka, siapapun layak mengeksplorasi gagasan-gagasan al-Quran berdasarkan perspektif masing-masing tanpa harus terikat dengan kaedah clan method penafsiran al-Quran. Terjadilah pemerkosaan terhadap teks-teks al-Quran oleh para pengusung gagasan sekularisme.

Pada level pemerintahan, para penguasa di negeri-negeri Islam tidak pernah tertarik untuk menerapkan al-Quran dalam sistem pemerintahan dan negara. Mereka juga lebih banyak bergantung dan cenderung mengabdi pada kepentingan Barat berbanding pada kepentingan Islam dan kemaslahatan kaum Muslim. Sikap islamophobia juga masih terasa sangat kental di kalangan penguasa, yang tentu saja tidak lepas dari tekanan negara-negara Barat yang berideologi kapitalis-sekular.

2. Rutin tanpa bekas.

Kita melihat banyak tradisi di masyarakat berkaitan dengan al-Quran seperti tradisi membaca al-Quran secara kolektif (tadarus) yang marak terutama pada bulan Ramadhan, tradisi khatam al-Quran untuk memperingati tarikh tertentu, bahkan setiap tahun momentum turunnya ayat al-Quran (Nuzulul Quran) diperingati sebagai hari besar keagamaan nasional.

Anehnya, aturan hidup yang terdapat di dalam al-Quran sendiri malah dicampakkan. Bahkan orang-orang yang menyerukan untuk menegakkan hukum-hukum al-Quran (syariah Islam) sebagai hukum positif menggantikan hukum sekular saat ini sering dituduh sebagai pengkhianat. Dalam al-Quran Allah Swt memberikan perumpamaan sebagai pelajaran:

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepada mereka Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya (tidak mengamalkan isinya), adalah seperti keldai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS al-Jumu’ah [62] : 5).

Melalui ayat di atas, kita dapat memahami bahawa kaum yang memikul wahyu tanpa melaksanakannya adalah laksana haiwan. Tak dapat dibayangkan, jika ada orang yang mengatakan kepada kita, “Anda ini seperti keldai !” Tidakkah kita tersinggung? Apa yang ada di lubuk hati kita saat itu?

Apalagi yang menyatakan seperti itu bukanlah manusia, melainkan Allah Swt yang kita harapkan keredhaan-Nya?

Apa yang ada dalam perasaan kita pada waktu kita tidak melaksanakan alQuran, lalu Allah Swt. mengumpamakan kita Apa yang ada dalam perasaan kita pada waktu kita tidak melaksanakan al-Quran, lalu Allah Swt. mengumpamakan kita seperti keldai? Orang yang beriman, bertakwa dan rindu akan redla Allah Swt. sejatinya akan menitiskah air mata jika disebut begitu oleh Zat yang diharapkan ampunan-Nya.

3. Mistikasi Al-Qur’an.

Sebahagian kaum Muslim yang telah rendah taraf berfikirnya menjadikan al-Quran tidak sebagai tuntunan/pedoman dalam hidup, tetapi sekadar sebagai ‘kitab’ mistik’. AI-Quran hanya disimpan dan digunakan untuk hal-hal yang berbau mistik semisal menjadikannya sebagai jimat, penolak bala’ mengusir setan, dsb.

Sebaliknya, al-Quran tidak dijadikan sebagai ‘pengusir’ berbagai macam aturan yang diterapkan di tengah-tengah saat ini seperti sekularisme, Kapitalisme, liberalisme, demokrasi, HAM dan lainnya.

4. Tidak ada institusi (negara) yang menerapkan Al-Qur’an.

AI-Quran berisi sistem kehidupan yang harus diterapkan. Di dalamnya terdapat hukum-hukum yang mengatur seluruh segi dan dimensi kehidupan (QS an-Nahl [ 16]: 89). Berbagai interaksi yang dilakukan manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, mahupun dengan sesamanya, semua berada dalam wilayah hukum al-Quran.

 

Dikutip dari : Majalah Al-Wa’ie