Ditulis oleh Mansyur    Thursday, 09 March 2006

Kunci surga itu milik Allah, bukan milik manusia manapun. Jadi kita tidak perlu pusing atau khawatir. Memang kalau kunci surga itu berada di tangan salah seorang manusia maka mungkin dia hanya mengizinkan jamaah atau kelompoknya saja untuk masuk ke dalam sorga.

Demikian dikatakan oleh ulama muda kondang Arab Saudi, Dr. ‘Aidh Abdullah al-Qarni, dalam sebuah acara silaturahmi dengan sebagian aktifis dakwah di Hotel Sofyan (Cikini), Ahad, 5 Maret 2006, yang diselenggarakan penerbit buku Pustaka Al-Kautsar dan Qishti Press. Diantara yang hadir nampak Syeikh Ibrahim (direktur LIPIA), Syekh Muhammad Kholaf, Ustadz Abdullah Jaidi (Ketua Majelis Dakwah PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah), dan Ustadz Abdullah Baharmuz yang juga memandu acara ini.  Sebagai penerjemah adalah Muhammad Ihsan dari Pustaka Alkautsar.

Syeikh Al-Qarni berkunjung ke Jakarta dalam rangkaian acara Jakarta Islamic Bookfair. Beliau didatangkan khusus oleh penerbit Qishti Press, yang menerbitkan buku super best seller karyanya “LA TAHZAN” dan “Menjadi Wanita Paling Bahagia.” Selain bertemu dengan para pembaca nya di Islamic Bookfair, Syeikh Al-Qarni juga menyempatkan diri bersilaturahmi dengan umat Islam di beberapa masjid di ibukota.

 

Syeikh Al Qarni sangat prihatin dengan berkembangnya budaya menghujat dan mencaci maki ulama dan gerakan Islam saat ini, yang dilakukan sementara kalangan. Bahkan dirinya juga sering menjadi korban celaan dan fitnah seperti itu di negaranya, antara lain dituduh sebagai khawarij dan murji’ah.

“Kenapa kita tidak sibuk memperbaiki diri kita sendiri, dan baru kemudian berusaha memperbaiki orang lain? Kenapa kita sibuk mengumpulkan kesalahan-kesalahan para du’at (da’i) lalu kemudian mengekspos nya di berbagai media, ceramah, dan buku? Padahal Rasulullah saw.  dalam sebuah hadits hasan mengatakan, “Beruntunglah orang yang menyibukkan diri dengan mengetahui dan memperbaiki aib-aibnya sendiri.”

Sahabat Abu Darda ra. juga pernah mengatakan: “Kalian menghisab orang lain seolah-olah kalian adalah para Tuhan! Padahal kalian adalah hamba-hamba dan manusia biasa.”
Masalah ini cukup mendominasi presentasi Syeikh Al-Qarni, terutama dalam jawaban beliau saat tanya jawab. Selain soal diatas, Syekh al-Qarni juga secara singkat berbicara  tentang isu karikatur Rasulullah saw., bom syahid, terorisme, dan adab menasehati penguasa.

Dalam presentasinya, Syeikh Al Qarni secara garis besar menyampaikan 3 (tiga) amanat:

“Pertama:
Kita memiliki kewajiban untuk memberi pemahaman yang benar kepada manusia tentang agama Islam. Di tengah jumlah penduduk yang 210 juta jumlahnya di Indonesia ini, kami lihat masih begitu banyak kejahilan dan ketidakpahaman terhadap Islam. Ditambah lagi Islam disini telah banyak mengalami pengaburan. Karena itu kita punya kewajiban untuk memberi pemahaman Islam yang benar kepada mereka.

Kedua: Jangan sampai kita disibukkan dengan saling bantah satu sama lain, saling menyerang satu jamaah dengan jamaah yang lain, karena itu akan menyebabkan kita terhalangi untuk menyampaikan risalah Al-Islam yang sesungguhnya, yang diturunkan untuk seluruh umat manusia di bumi ini. Mengapa kita menghabiskan usia dan waktu kita dengan usaha-usaha saling menjatuhkan satu sama lain, padahal dunia sedang menunggu kita menyampaikan risalah Islam yang sesungguhnya.

 

Syeikh Abdul Aziz bin Baz sendiri sudah memberikan nasihat dan fatwa bagi kita agar tidak menyibukkan diri kita dengan menyingkap-nyingkap aib saudara sesama kaum muslimin. Beliau menasihatkan kita untuk membuat manusia mencintai Islam ini dengan cara mengindarkan diri dari kebiasaan-kebiasaan semacam itu.

Ketiga:  Kita harus mewujudkan persatuan kaum muslimin, karena kita sesungguhnya adalah umat yang satu. Kenapa umat muslimin yang ada di Jakarta tidak bisa bersatu dengan kaum muslimin yang ada di Mauritania? Padahal sekarang orang-orang kafir, musuh-musuh Allah SWT sedang bersatu untuk menjatuhkan kaum muslimin. Saya pernah mengunjungi Amerika dan saya lihat bahwa sesungguhnya dalam diri mereka itu berpecah-belah, tapi saat memerangi Islam mereka bersatu padu.”


*****

 

Berikut ini transkrip panjang ceramah dan tanya jawab Syekh Al-Qarni setelah edit bahasa. Agar lebih mudah diikuti, penyajian transkrip ini dilakukan per masalah (item). Transkrip dan edit ini dilakukan oleh: Mansyur Alkatiri (Balitbang PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah).

Pembukaan:

Kita bertemu malam ini bukan karena keturunan atau interest-interest lain, tapi hanya karena ikatan kalimat laa ilaaha illallah, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Saudara-saudara kita di Saudi Arabia menyampaikan salam pada Antum semua, kaum muslimin Indonesia. Dari khadimul haramaian asy-syarifain, para ulama, dan dari berbagai pihak yang terus bekerja dan bergerak di bidang dakwah Islam. Mereka sangat memuji Anda sekalian sebagai bangsa yang besar, sebagai sebuah bangsa yang mempunyai akhlak dan perilaku yang mengagumkan.

Kami sampaikan apresiasi dan terima kasih yang luar biasa karena Antum telah membantu menyebarluaskan kitab LA TAHZAN – Jangan Bersedih, meski sebetulnya Antum di Indonesia ini sebenarnya tidak perlu bersedih karena Antum punya tiga hal yang sangat menguntungkan, yaitu: Air yang sangat banyak, pemandangan yang sangat hijau, dan wajah yang berseri-seri menyenangkan. Kami berharap, sandainya memungkinkan air-air ini dan pemandangan hijau itu bisa juga dipindahkan ke Arab Saudi. Meskipun itu tidak mungkin dilakukan, tapi Insya Allah mudah-mudahan Allah mempertemukan kita di Surga Firdaus.

*****

Tentang Jamaah-Jamaah Islam:

Saya hamba yang fakir ini, secara pribadi tidak berafiliasi ke salah satu jamaah manapun. Saya bukanlah seorang tablighi, atau ikhwani, atau anggota hizbut tahrir dan semacamnya. Saya ingin menyampaikan pelajaran yang saya peroleh dari interaksi saya dengan para ulama, terutama dengan Syekh Abdul Aziz bin Baz, Muhammad Sholeh al-Utsaimin, dan Syekh Nashiruddin al-Albani rahimahumullah jamii’an. Mereka semua menasehati kami, bahwa hendaknya yang menjadi titik tolak pergerakan kita ini adalah kembali kepada ajaran Allah Subhanany Wa Ta’ala yang sesungguhnya.

Saya adalah orang yang tidak setuju dan melawan segala bentuk TASYHIR atau penggembor-gemboran kejelekan dan kesalahan jamaah-jamaah Islam itu. Kita harus mengakui bahwa jamaah-jamaah Islam yang ada itu semuanya telah berijtihad, telah berusaha sungguh-sungguh untuk menyampaikan agama Allah SWT.
Jamaah Ikhwanul Muslimin dan Jamaah Tabligh telah melakukan perjuangan dan dakwah dengan cara yang mereka anggap sebagai cara yang benar. Syeikh Al Abdul Aziz bin Baz telah bertemu dengan beberapa dari mereka, seperti Muhammad Quthb (Mesir), Syekh Az-Zindani (Yaman), dan lainnya. Dan Syekh Abdul Aziz bin Baz mengatakan bahwa mereka adalah IKHWAN kita semua, dan mereka (Jamaah Ikhwanul Muslimin) telah memberi manfaat yang sangat banyak pada kaum muslimin. Bahwa mereka punya kesalahan, kita semua juga punya kesalahan. Insya Allah kami akan mengingatkan mereka. Tidak ada manusia yang maksum. Kita semua bukan malaikat, jadi semua punya kesalahan. Hanya Rasulullah saw. manusia yang maksum.

Beliau (Syekh Bin Baz) mengingatkan kita agar jangan menyibukkan diri dengan kesalahan-kesalahan itu, dengan mengekspose kesalahan atau kekeliruan mereka, lalu kita dengan sengaja meninggalkan musuh-musuh Allah yang sudah nyata, dari kaum Nasrani dan Yahudi, yang berusaha menyerang dan menjatuhkan kaum muslimin.

Dimana kita meletakkan akal sehat kita? Kenapa kita tidak mengambil manfaat dan kebaikan dari sisi-sisi baik jamaah-jamaah yang ada itu, dan kemudian menyampaikan nasehat dan meluruskan kesalahan mereka?

Jamaah Tabligh telah menyampaikan Islam ke berbagai belahan dunia, sampai ke Kanada, Australia, bahkan ke Cina, dan banyak wilayah dunia lainnya. Ikhwanul Muslimin juga seperti itu, dan seperti kita tahu di Turki dan Hamas Palestina yang kini dikaruniai Allah.

Kenapa kita tidak sibuk memperbaiki diri kita sendiri, lalu kita kemudian baru berusaha memperbaiki orang lain? Kenapa kita sibuk mengumpulkan kesalahan-kesalahan para du’at lalu kemudian mengekspos nya di berbagai media. Dalam sebuah hadits yang di HASAN kan oleh sebagian besar ulama hadits, Rasulullah saw. mengatakan yang artinya: “Beruntunglah orang yang menyibukkan diri dengan mengetahui dan memperbaiki aib-aib nya sendiri.”

Sahabat Abu Darda pernah mengatakan: “Kalian menghisab orang lain seolah-olah kalian adalah para Tuhan! Padahal kalian adalah hamba-hamba, manusia biasa.”

Saya adalah seorang tolabul ilmi yang kecil, belum sampai pada derajat ulama-ulama besar. Di Arab Saudi saya dengan beberapa teman mendapatkan tuduhan dari sementara orang sebagai pelaku bid’ah, sang khawarij, dan sebagainya. Lalu saya pergi bersama beberapa teman menemui Syekh Abdul Aziz bin Baz dan menyampaikan hal itu. Syekh bin Baz mengatakan, hendaklah kita menghisab mereka dengan sebaik-baiknya. Janganlah kita kembalikan omongan mereka sebagaimana mereka ngomong. Cukup dengan bahasa yang lemah lembut. “Tulislah berbagai syair sebagai balasan atas omongan mereka. Insya Allah mereka mendapat hidayah dari Allah SWT,” kata Bin Baz.

Dan beliau (Syeikh bin Baz) juga mengatakan, saya bisa saja melakukan kesalahan. Dan saya tumbuh, besar, dan berkembang di sebuah negara yang dipenuhi dengan para ulama, dimana setiap ada satu kesalahan yang disampaikan pasti akan diberikan peringatan oleh para ulama besar. Beliau juga mengatakan, dirinya akan sangat berterima kasih bila ada seseorang yang memberikan nasihat kepadanya. Dalam salah satu ceramah di Jeddah, beliau mengatakan: “Ada seseorang  yang memberi catatan yang meluruskan kesalahan saya waktu saya menyampaikan satu bait syair. Dan saya menyampaikan rasa terima kasih pada orang yang meluruskan itu.”

Alhamdulilah, kunci surga itu adalah milik Allah SWT dan bukan milik seorang manusia pun. Kita tdk perlu pusing, tdk perlu khawatir, karena kalau kunci surga itu berada di tangan salah seorang manusia maka mungkin dia hanya mengizinkan jamaah nya saja, kelompoknya saja, untuk masuk ke dalam sorga.

Surga itu punya 8 (delapan) pintu, dan satu pintu saja lebarnya seperti antara Al Quds sampai San’a, ribuan mil jaraknya. Bagaimana seseorang bisa mengatakan hanya kelompoknya saja dengan jumlah yang terbatas yang bisa masuk ke dalam surga? Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an:  “Hamba-hamba Allah SWT itu secara umum terbagi tiga kelompok: Ada yang dzolim terhadap dirinya sendiri, ada yang pertengahan, dan ada yang mendahului dalam melakukan kebaikan (tsabit bil khoirot). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, bahwa ketiga kelompok ini akan masuk surga ke dalam surga Allah SWT.

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. mengisahkan, ada seseorang yang membunuh 100 orang. Dia
kemudian mati, lalu Allah SWT memasukkan dia ke dalam surga. Subhanallah! Kenapa kita bisa memvonis orang yang terbunuh di jalan Allah SWT, orang yang telah jelas-jelas terbunuh dalam memperjuangkan agama Allah SWT? Ya, mungkin saja dia punya sedikit kesalahan, tapi dia mati karena memperjuangkan agama Allah SWT! Kenapa Allah SWT bisa memasukkan seorang pembunuh 100 orang ke dalam surga lalu Allah tidak memasukkan orang yang terbunuh di jalan Allah ke dalam surga?

Saya tidak menyujui kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh para du’at itu. Ada kesalahan yang kita temukan dalam tulisan-tulisan mereka, dalam buku-buku mereka. Dan lucunya ada orang yang membaca tulisan saya dan mendengarkan ceramah saya kemudian dia mengatakan saya adalah seorang khawarij. Pada kali yang lain dia menemukan kesalahan saya lalu dia mengatakan saya nashibi. Di kali yang lain dia menemukan kesalahan saya lalu mengatakan saya murji’i (penganut murjiah). Ini tidak mungkin! Pada saat yang sama disebut seorang khawarij dan murjiah, karena pada dasarnya mazhab khawarij dan murjiah ini adalah mazhab yang saling bertentangan, tidak mungkin bersatu.

Intinya, kita tidak meyakini ada manusia yang maksum selain dari Rasululullah saw. Kita tetap punya kewajiban memberi peringatan dan nasehat terhadap kesalahan-kesalahan yang terjadi. Tentu dengan cara yang terbaik sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an: “berdakwalah ke jalan Allah Tuhan mu dengan jalan hikmah, nasehat yang baik (mau’idzotil hasanah)!” Jangan kita menggembor-gemborkan kesalahan itu, lalu menyebarluaskannya. Tapi dengan nasehat yang baik.

Ada sebuah kisah yang dialami oleh seorang dai di Riyadh, bernama Syekh Abdul Aziz al-Mughim. Beliau menceritakan, ada seorang tolabul ilm yang baru mulai belajar, tapi yang selalu menjadi perhatiannya hanyalah mengumpulkan kesalahan-kesalahan para du’at. Sampai pada akhirnya suatu ketika Allah menakdirkan syeikh ini mengunjungi desa asal anak muda tersebut. Ternyata di desa itu syekh ini bertemu dengan orang tua anak tersebut, dan ternyata orang tua anak ini mengadukan kepada syeikh bahwa anaknya ini luar biasa durhakanya kepada dia. Syekh Abdul Aziz mengatakan: “Subhanallah! Bagaimana dia bisa sibuk mengumpulkan kesalahan-kesalahan para du’at dan di saat yang sama dia melakukan dosa terbesar kedua setelah syirik kepada Allah SWT, yaitu Durhaka kepada kedua orangtuanya.”

Ada satu kisah. Penduduk Irak pada suatu waktu menunaikan ibadah haji. Lalu pada saat akan melempar jumroh salah seorang dari mereka melihat ada seekor lalat yang terbang dan membunuh lalat itu. Apa yang dilakukan mereka? Mereka kemudian datang menemui sahabat Abdullah bin Umar ra. dan bertanya: “Salah seorang dari kami membunuh seekor lalat pada saat menunaikan ibadah haji. Kira-kira apakah dia harus membayar denda memotong kambing atau membayar dam?”

Ibnu Umar heran dan bertanya, “Dari mana kalian?”
Mereka jawab, “Kami datang dari Irak!”
Lalu Ibnu Umar menjawab, “Subhanallah! Kalian telah menyembelih Husein radliallahu ta’ala ‘anhu, dan tidak pernah menanyakan apa yang harus dilakukan. Tapi pada saat membunuh seekor lalat kalian bertanya.”

Masya Allah! Ini wara’ yg tidak pada tempatnya.

*****

 

Tentang Isu Mundur Dari Dakwah:

Kami pernah membaca sebuah majalah di Indonesia yang menyebutkan bahwa saya ingin meninggalkan dunia dakwah dengan salah satu alasannya adalah bahwa masjid-masjid di Saudi sudah dijadikan sebagai ajang untuk memerangi apa yang disebut dengan terorisme.

(Lalu Syekh Al-Qarni memberi klarifikasi):

1. Meninggalkan dunia dakwah tidak dibenarkan bagi setiap muslim, hukumnya haram.
2. Saya sendiri sudah menulis syair, dan di dalam syair itu saya tidak sekalipun menyebutkan bahwa saya akan mundur dari dunia dakwah.
3. Tolabul ilm seperti saya ini, setelah Allah memuliakan saya dengan dakwah ini tidak mungkin meninggalkan medan dakwah yang telah banyak memberikan kemuliaan di sisi Allah SWT ini.

Adapun isu terorisme, saya ingin memberi kabar gembira. Mayoritas kaum muslimin di Saudi Arabia berada di jalan pertengahan, di jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Adapun orang-orang yang mengusung paham TAKFIR, ide-ide khawarij, itu jumlahnya sangat sedikit. Dan para ulama, masyayekh, yang sekarang ada di dalam penjara juga sudah 85% merujuk pada pandangan-pandangan awal sebelumnya, dan mereka pun mulai dibebaskan satu persatu. Kita tidak perlu pesimis dengan kondisi yang ada di Arab Saudi sekarang.

*****

 

Soal jihad dan bom bunuh diri di Palestina dan Iraq:

Hukum bom bunuh diri ini berbeda antara satu negara dengan negara lain. Palestina misalnya berbeda hukumnya dengan negara lain karena disana jihad telah terjadi antara kaum muslimin dan orang-orang Yahudi. Para ulama juga sudah membuat fatwa. Kaum Yahudi disana membunuh kaum muslimin, wanita dan anak-anak, membombardir rumah-rumah kaum muslimin dan mengusir mereka, dan para ulama mempunyai fatwa-fatwa khusus terkait dengan masalah itu.

Seperti misalnya bom bunuh diri yang banyak dilakukan oleh pemuda-pemuda Palestina, banyak diantara ulama yang memandang itu sebagai bom syahid atau bom istisyhad. Saya berharap arwah mereka diterima di sisi Allah SWT sebagai para syuhada.

Adapun terkait dengan Irak, persoalannya berbeda dengan Palestina. Di Irak kita belum bisa memastikan dengan jelas bahwa Amerika benar-benar menguasai disana. Sebab yang terjadi disana adalah fitnah yang sangat besar, bahkan diantara sesama kaum muslimin sendiri. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Irak ini sangat tidak jelas, karena itu waktu saya ditanya apakah boleh berjihad ke Irak saya katakan: “Saya tidak menasehatkan untuk pergi berjihad ke Irak. Karena disana kita tidak mengetahui siapa yang membunuh dan siapa yang dibunuh. Apakah yg membunuh itu Muslim atau bukan. Sampai panji jihad, pemimpin (qiyadah) jihad menjadi jelas, maka di saat itulah kita bisa mungkin menyarankan kaum muslimin untuk pergi kesana.

*****

Tentang Karikatur Penista Nabi:

Kami sampaikan rasa terima kasih secara khusus pada muslimin Indonesia terkait dengan reaksi positif muslimin Indonesia yang menyatakan protes, baik dalam bentuk demonstrasi maupun lainnya, menyikapi penghinaan terhadap Rasulullah saw. melalui karikatur. Kami sampaikan terima kasih secara khusus kepada Antum karena telah membela Rasulullah saw. yang dimuliakan dan ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT.

Kita kaum muslimin bukanlah para teroris! Para teroris sesungguhnya adalah mereka yang telah mengeruk, menghabiskan harta kekayaan kaum Muslimin. Para teroris sesungguhnya adalah mereka yang telah menyerang dan membunuh kaum muslimin di Afghanistan, Irak, Palestina, dan berbagai belahan bumi lainnya. Sekali lagi, kita ini bukanlah kaum TERORIS, karena kita diutus bersama Rasulullah saw. untuk memberi rahmat kepada alam semesta.

Kita bersyukur dengan reaksi yang ditunjukkan kaum muslimin di seluruh dunia terhadap peristiwa penghinaan atas Rasulullah saw. melalui karikatur. Pemerintah Saudi sendiri telah melakukan langkah-langkah yang sangat nyata terkait dengan masalah itu, antara lain dengan menarik duta besarnya di Denmark, dan juga gerakan boikot atas produk-produk Denmark, yang menyebabkan kerugian sampai 7 miliar dolar per hari.

Kita jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan dalam masalah ini. Kita jangan tergesa-gesa mengatakan ini sebagai awal dari Perang Salib atau yang semacamnya. Bisa saja itu yang akan terjadi, tapi kita hrus menyadari realitas kita kaum muslimin, jumlah kita sangat banyak tapi kita seperti yang dikatakan oleh Rasulullah saw. seperti buih di lautan.

Sekali lagi kami sampaikan rasa terima kasih yang besar terhadap kaum muslimin di Indonesia, seperti respon yang saya lihat di beberapa stasiun televisi. Tapi kami ingatkan kita untuk tidak berlebih-lebihan, apalagi menyakiti orang lain dan melakukan tindakan dholim. Karena Allah SWT sendiri di dalam Al-Qur’an ketika memerintahkan untuk berperang Allah menegaskan: “Beperanglah kalian, tapi janganlah kalian bersikap berlebih-lebihan.” Kami menekankan pentingnya pengajuan tuntutan-tuntutan yang bersifat resmi, dan itu adalah sesuatu yang sangat syar’i, dan sekali lagi kami tegaskan jangan sampai peristiwa ini membuat kita melakukan hal-hal yang bertentangan perintah Allah SWT.

*****

 

Adab memberikan nasihat kepada para penguasa:

Memberikan nasehat kepada penguasa harus dengan cara yang lemah lembut, dengan cara yang bijak, dengan cara yang hikmah. Kita ingat dengan kisah Nabi Musa as. dan Nabi Harun yang diperintahkan Allah untuk menyampaikan nasihat kepada Fir’aun, dan sampaikan lah nasehat dengan kalimat yang lemah lembut.

Sudah banyak terjadi upaya2 perlawanan terhadap pemerintah yg sifatnya frontal, yg dicoba oleh berbagai jamaah Islam tapi semuanya berakhir dng kegagalan, para pelakunya dimasukan ke penjara.

Apakah boleh kita menyebar-nyebarkan keburukan penguasa melalui mimbar-mimbar Jum’at dan media massa?

Itu bukan manhaj Islam, karena Nabi saw. sendiri ketika memberikan nasehat selalu mengatakan: “Kenapa ada orang yang melakukan seperti itu”, tanpa menyebutkan namanya atau menyebarluaskan.

Media massa seharusnya digunakan untuk memberikan nasihat-nasehat yang bijak, bukan digunakan untuk menyebarkan aib dan keburukan-keburukan orang. Sudah banyak jamaah yang melakukan cara seperti ini, tapi itu justeru menjadi sebab kegagalan proyek-proyek baik yang mereka lakukan.

Kami amat berharap,  jangan kita disibukkan oleh urusan-urusan politik. Memang Islam adalah agama dan negara pada saat yg sama, tapi jangan sampai kesibukan dan keseriusan orang dalam politik menyebabkan mereka meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, memalingkan kaum muslimin dari perhatian terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Apa boleh mengkafirkan penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah?

Takfir atau mengkafirkan penguasa adalah sesuatu yang harus ditanyakan dan dimintakan fatwanya kepada para ulama. Para du’at atau tolabul ilm bukanlah tempat untuk meminta fatwa dalam kasus-kasus seperti ini. Ada kisah, ketika ada orang mencela Al Hajjaj, seorang penguasa yang dzalim, Al Hasan al-Bashri rahimahllah ta’ala justeru mengatakan: “Jangan mencela Al Hajjaj, karena Al Hajjaj berkuasa atas kita disebabkan karena dosa-dosa yang telah kita lakukan!”

Ada satu kisah. Ketika saya bersama Syekh Bin Baz menunaikan ibadah haji, ada beberapa orang jamaah haji dari salah satu negara Arab yang datang menyampaikan kepada Syeikh Bin Baz tentang salah seorang penguasa denga nada mencela. Syekh Bin Baz lalu menyampaikan nasehat: “Ingat bahwa gara-gara dosa kalian pula maka penguasa itu kemudian menguasai kalian dengan kedzoliman!” Kami ingatkan, kalau kita ingin bertobat dan kembali pada Allah dengan sungguh-sungguh, insya Allah Allah akan menganugerahi kepada kita pemimpin yang adil, pemimpin yang mengasihi kita dan tidak mendzolimi kita.