(LA TAHZAN‘, DR AIDH AL-QARNI Hal. 19)

Orang cerdik akan berusaha mengubah kerugian menjadi keuntungan.  Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi berlonggok dan berlipat ganda.

            Ketika Rasulullah SAW diusir dari Mekkah, beliau memutuskan untuk menetap di Madinah dan kemudian berhasil membangunnya menjadi sebuah negara yang sangat akrab di telinga dan mata sejarah.

            Ahmad bin Hanbal pernah dipenjara dan dihukum dera, tapi kerananya pula ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab.  Ibnu Taimiyyah pernah dipenjara, tetapi justeru di penjara itulah ia banyak melahirkan karya.  As-Sarakhi pernah dikurung di dasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah ia berhasil mengarang buku sebanyak dua puluh jilid.  Ketika Ibnul-Atsir dipecat dari jabatannya, ia berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul  Jami’ul  Ushul dan An-Nihayah , salah satu buku paling terkenal dalam hadits.  Demikian halnya dengan Ibnul-Jawzy; ia pernah diasingkan dari Baghdad, dan kerana itu ia menguasai  Qiraah Sab’ah.  Malik bin Ar-Raib adalah penderita suatu penyakit yang mematikan, namun ia mampu melahirkan syair-syair yang sangat indah dan tak kalah dengan karya-karya para penyair besar zaman Abbasyiah.  Lalu, ketika semua anak Abi Dzuaib Al-Hudzali mati meninggalkannya seorang diri, ia justeru mampu menciptakan nyanyian-nyanyian puitis yang mampu membekam mulut zaman, membuat setiap pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk tangan saat mendengarkannya kembali.

            Begitulah: ketika tertimpa suatu musibah, Anda harus melihat sisi yang paling terang darinya; ketika seseorang memberi Anda segelas air lemon, Anda perlu menambah sesendok gula ke dalamnya; ketika mendapat hadiah seekor ular dari orang, ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan bahagian tubuhnya yang lain; ketika disengat kala jengking, ketahuilah bahawa sengatan itu sebenarnya memberikan kekebalan pada tubuh Anda dari bahaya bisa ular.

Kendalikan diri Anda dalam berbagai kesulitan yang anda hadapi! Dengan begitu, Anda akan mendapat mempersembahkan bunga mawar dan melati yang harum kepada kami. Dan (Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu ) QS. Al-Baqarah :216

Sebelum terjadi revolusi besar di Perancis, konon negara itu pernah memenjara dua sasterawan terkenalnya.  Salah seorang dari keduanya sangat optimis dan yang seorang lagi pesimis bahawa revolusi dan perubahan akan segera terjadi.  Setiap hari keduanya sama-sama melonggokkan kepala melalui sela-sela jaruji kepala.  Hanya saja, sang sasterawan yang optimis selalu memandang ka atas dan melihat bintang-bintang yang gemerlap di langit. Dan kerana itu ia selalu tersenyum cerah.  Adapun sasterawan yang pesimis, ia selalu melihat ke bawah dan hanya melihat tanah hitam di depan penjara, dan kemudian menangis sedih.

Begitulah,  sebaiknya Anda selalu melihat sisi lain dari kesedihan itu.  Sebab, belum tentu semuanya menyedihkan, pasti ada kebaikan, secerah harapan, jalan keluar serta pahala.