Oleh : Prof. DR. Nashir bin Sulaiman Al-Umar

Sesungguhnya hajat kita pada ilmu tidak lebih sedikit dari hajat kita pada makanan dan minuman. Sebab hanya dengan ilmu-lah kehidupan spiritual (agama) dan materil (dunia) kita akan tertegakkan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan kebaikan, maka Ia akan membuatnya paham terhadap agamanya.”

Para penjajah tidak menguasai negri-negri kaum muslimin kecuali karena beberapa faktor, dan yang terpenting diantaranya adalah kejahilan dan kebodohan kaum muslimin. Tersebarnya pemahaman dan pemikiran yang merusak tidak lain disebabkan kosongnya akal fikiran mereka dari pemahaman yang benar. Satu hal yang sangat menyedihkan adalah kebodohan terhadap Islam itu justru tersebar di kalangan para pengemban misi kebaikan di berbagai negri-negri Islam. Dan justru terjadi pada ummat yang perintah pertama yang turun dalam Kitab suci mereka adalah Iqra’ bismirabbika-lladzi khalaq, bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan! Ini menunjukkan bahwa perintah berilmu mendahului perintah untuk berda’wah.

Imam Bukhari sendiri menuliskan salah satu judul bab dalam kitab Shahihnya: “Bab Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal”. Ini ia lakukan dengan bersandar pada Firman Allah: “Maka ketahuilah bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan memohon ampunlah atas dosamu dan dosa kaum beriman…”

Salah satu sebab penting kelemahan kaum muslimin di masa kini adalah kurangnya ulama yang mengamalkan ilmunya, yang menyerahkan dirinya untuk menyampaikan dan menyebarkan ilmu. Jika hajat sebuah negara terkecil kaum muslimin membutuhkan jumlah dokter yang memadai untuk secara khusus mengobati penyakit-penyakit fisik, maka hajat mereka kepada ‘dokter-dokter hati’ tentulah jauh lebih besar. Dan ‘dokter-dokter hati’ itu tak lain adalah para ulama Syariah!

Jika melalui para dokter itu Allah menyembuhkan mata manusia, maka melalui para ulama Syariat Allah menyembuhkan mata hati manusia. Dengan mereka, Allah menghidupkan hati seperti Ia menghidupkan bumi yang gersang dengan siraman air hujan. Mereka, para ulama itu, telah memberikan begitu banyak manfaat bagi manusia. Itulah sebabnya, mereka berhak untuk dimohonkan ampun oleh semua makhluk. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw:

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkannya untuk menempuh jalan ke surga. Dan sungguh para malaikat akan merendahkan sayap-sayap mereka (sebagai bukti) keridhaan mereka pada sang penuntut ilmu. Dan sungguh seluruh makhluq yang ada di bumi dan di langit akan memohon ampunkan sang alim, sampai ikan yang ada di kedalaman laut pun (melakukan itu).”

Sedangkan di akhirat, duhai, betapa beruntungnya para ulama itu, “Allah akan mengangkat derajat orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat. Dan Allah itu Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

Musibah kita, ummat Islam, yang lain adalah buruknya strategi dan sistem pembelajaran di berbagai tingkatan studi. Banyak negara kaum muslimin yang menyerahkan penetapan sistem pembelajarannya kepada orang-orang sekuler dan sosialis, atau para pendukung pemikiran-pemikiran “impor” lainnya. Padahal mereka itulah yang justru menjadi pendukung musuh-musuh ummat untuk menghancurkan ummat itu sendiri. Merekalah yang menyokong dan menolong musuh-musuh itu untuk melancarkan perang peradaban kepada putra-putra kaum muslimin.

Ini ditambah lagi dengan faktor-faktor internal ummat yang menyedihkan; seperti tekad, obsesi dan cita-cita yang rendah dan lemah. Sehingga seringkali kita menemukan seorang syekh mengawali kajiannya dengan jumlah peserta yang membludak, namun seiring perjalanan waktu tidak ada yang bertahan kecuali beberapa gelintir saja. Satu persatu orang meninggalkan majlis itu. Begitupula dengan terbukanya dunia dan kesempatan menikmati gemerlapnya membuat orang mengorbankan kewajiban menuntut ilmu syar’I –yang nota bene adalah satu-satunya jalan yang dapat menyelamatkannya di akhirat dan memberikan kebahagian di dunia.
Dahulu, para salaf ummat ini tidak pernah tersibukkan oleh apapun dari jalan ilmu ini. Sahabat Jabir Radhiyallahu Anhu rela menempuh perjalanan berjarak satu bulan lamanya, hanya untuk mendengarkan satu hadits! Ayyub Al-Anshary meninggalkan kota Madinah untuk menemui Uqbah bin ‘Amir di Mesir, juga hanya untuk mendengarkan satu hadits –yaitu hadits: “Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di Hari Kiamat…”! Dan usai mendengar hadits itu, ia pun segera pulang kembali ke Madinah.

Bisr bin Ubaidillah mengatakan: “Sungguh saya akan menempuh perjalanan ke salah satu kota dari sekian banyak kota meski hanya untuk mendengarkan sebuah hadits.”
Abul ‘Aliyah juga menuturkan, “Dahulu kami mendengarkan hadits dari para sahabat, namun kami tidak rela hingga kami melakukan perjalanan untuk menemui mereka dan mendengarnya langsung dari mereka.”

Beraneka ragamnya sarana hiburan dan permainan, dan terbagi-baginya spesialisasi ilmu juga turut serta berperang dalam melemahkan ilmu-ilmu syar’i. Sehingga kita menemukan seorang alim hanya membatasi dirinya dalam satu spesialisasi ilmu syar’I seperti Ushul fiqih misalnya. Padahal ulama terdahulu –misalnya- ada yang berhasil menguasai Tafsir, Fiqih, Hadits dan hampir semua disiplin ilmu syar’i. Dan jangan lupa, rasa rendah diri di hadapan ilmu-ilmu non-syar’I dan pandangan rendah terhadap ilmu-ilmu syar’I juga turut andil dalam proses pelemahan tersebut.

Semua faktor tersebut adalah hal-hal yang menyebabkan lemahnya motivasi ummat untuk menyelami ilmu syar’i. Dan itu terjadi justru di zaman dimana ummat manusia sangat membutuhkan bimbingan ilmu ini. Maka apakah generasi-generasi kita saat ini mampu mengembalikan ilmu dan amal dalam kehidupan mereka seperti yang dahulu pernah diraih oleh para pendahulu mereka? Saya berharap demikian.

_____________________________
Diterjemahkan dari tulisan beliau, Hajatuna lil-‘Ilm yang dimuat dalam www.almoslim.net, 22-12-1426 H. Alih bahasa: Muhammad Ihsan Zainuddin.