(dari Buku La Tahzan, DR. Aidh Al-Qarni, hal. 452)

 (Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.  Sesengguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya) QS Ali ‘Imran 159

           Banyak di antara kita tidak yakin ketika akan mengambil keputusan, sehingga gelisah, bingung dan ragu.  Dan akhirnya dia selalu berada dalam tertekan dan pusing berkepanjangan.  Adalah  kewajiban seorang hamba untuk selalu bermusyawarah atau beristikharah kepada Allah.  Kemudian merenung sebentar, setelah itu jika kemudian dia merasakan ada sesuatu yang menurutnya paling tepat, majulah dan jangan ragu-ragu.  Sekarang bulatkan tekad, tawakkal, dan mantapkan hati, agar hidup ragu-ragu dan bimbang cepat berakhir.

Sebelum perang Uhud, Rasulullah berdiri di depan mimbar memimpin musyawarah.  Para sahabat merekomendasikan agar Rasulullah turun langsung ke medan perang-  Maka Rasulullah Segera memakai baju perang dan mengambil pedang.  Tapi rekomendasi sahabat itu justeru membuat mereka kekok sendiri, sehingga harus meyakinkan kepada Rasulullah,“Apakah kami telah membuatmu tidak suka wahai Rasulullah? Bagaimana kalau engkau tinggal di Madinah saja?“Rasulullah menjawab,“Tak pantas bagi seorang Nabi jika dia telah memakai baju perangnya untuk melepaskannya kembali hingga Allah menentukan apa yang akan terjadi antara dia dengan musuhnya.“ Rasulullah keluar dengan semangat yang tinggi.

Rasulullah juga bermusyawarah dengan para sahabatnya pada saat perang Badr:

(Dan, bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu) QS Ali ‚Imran :159     (Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah) QS Asy-Syura :38

Sikap ragu-ragu adalah ketidakberesan dalam melihat sebuah permasalahan, semangat yang lemah, ketidakbulatan tekad, kegigihan yang tak ada ubatnya kecuali dengan ketekadan, perbuatan, dan keteguhan hati.  Banyak kes yang menjelaskan bahawa keputusan-keputusan kecil dan permasalahan enteng harus maju mundur tak pernah selesai selama bertahun-tahun.  Hal ini boleh diterka bahawa faktor orang nyalah yang harus dibenahi.  Mereka selalu ragu dan tidak punya keteguhan hati untuk mengambil keputusan, yang boleh jadi kerana faktor dalam dirinya atau faktor luar.

Mereka memberi jalan kepada kegagalan untuk menyatu dengan jiwa mereka, dan ternyata mereka berhasil.

Yang harus dilakukan setelah mempelajari kenyataan adalah memikirkan permasalahan itu, bertukar pendapat dengan orang yang bijaksana dan berpengalaman, beristikharahlah kepada Rabb semesta, berjalan ke depan menghadapi masalah, dan menyelesaikan yang sudah ada di depan mata terlebih dahulu.

Abu Bakar Ash-Shiddiq juga bermusyawarah dengan para sahabat terlebih dahulu sebelum menentukan sikap, apakah akan memerangi orang-orang yang murtad atau tidak.  Para sahabatpun merekomendasikan untuk tidak memerangi mereka.  Tapi Abu Bakar lebih memilih perang dengan pertimbangan bahawa dengan perang akan nampak kebesaran Islam, menangkas benih-benih fitnah yang akan muncul berikutnya, dan menekan kelompok-kelompok yang potensi akan keluar dari kesucian agama.  Cahaya Allah yang diterimanya pada waktu tidur menguatkan pendapatnya bahawa perang lebih baik.  Maka Abu Bakar pun membulatkan tekadnya dan bersumpah,“Dan demi Dzat Yang Jiwaku ada di tangan-Nya, saya akan perangi orang yang membezakan antara shalat dengan zakat.  Demi Allah, seandainya mereka tidak mahu menyerahkan tali kepala yang pernah mereka berikan kepada Rasulullah, nescaya aku akan perangi mereka.“

Setelah peristiwa itu selesai Umar mengatakan,“ ketika saya menyedari bahawa Allah telah membukakan hati Abu Bakar, saya tahu bahawa apa yang telah dia lakukan adalah benar. “buktinya, Abu Bakar jalan terus dengan pendapatnya, dan berhasil.  Pendapatnya memang benar, tanpa pura-pura dan penyimpangan apapun.

Sampai bila kita terus goyah? Sampai bila kita berjalan ditempat? Dan sampai bila kita terus ragu untuk mengambil keputusan Jika punya pendapat, maka kuatkan tekadmu itu,

 Pendapat itu akan hancur ketika kamu ragu

Menggagalkan rencana yang sudah setengah jalan adalah kebiasaan orang munafik dengan selalu mempertanyakan lagi rencana yang sudah dijalankan dan mempertanyakan lagi rencana-rencana yang masih akan diambil.

(Dan, jika mereka berangkat bersama-sama kamu, nescaya mereka tidak menambah kamu selain kesusahan belaka) QS. At-Taubah :47

(Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang:“Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.“Katakanlah: Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar“) QS. Ali Imran :168

Mereka selalu mengatakan “seandainya“, …akan jadi begini jika begini“, dan “bisa jadi“.  Nampaknya, kehidupan mereka pun berdiri di atas pengandaian, di atas langkah yang maju mundur, dan ketidakjelasan.

(Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir): tidak masuk pada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan ini (orang-orang kafir).)   QS. An Nisa :143

         Sesekali mereka bersama kita dan lain kali bersama mereka, kadang-kadang di sini dan kadang-kadang di sana.

         Disebutkan dalam hadits “laksana domba-domba yang banyak yang berada di antara dua kawanan kambing.“ Dan pada saat tersepit mereka akan mengatakan (sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu) QS. Ali ’Imran: 167)

         Dengan mengatakan seperti itu sebenarnya mereka tidak jujur kepada Allah dan kepada diri mereka sendiri, mereka menghindari masa-masa susah dan akan datang ketika keadaan mulai membaik.

         Keputusan yang mereka ambil adalah keputusan ke arah kegagalan dan kesengsaraan.  Mereka berkata dalöam surat Al Ahzab: 13 :

(Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).)

         Ayat di atas pernyataan yang intinya adalah dalih agar bisa berkelit dari kewajiban dan menghindar dari kebenaran yang nyata.