Mungkin ada yang berdalih, “Aku tidak bisa mendakwahi orang lain kerana pengetahuanku sangat minimum.” Bagaimana menjawab pernyataan seperti itu?

  Katakan kepadanya sabda Rasulullah SAW, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat. Ceritakanlah kisah Bani Israil tanpa ragu-ragu. Barangsiapa berdusta dengan mengatas namakanku maka bersiaplah mendapat tempat di neraka.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Umar)

  Walau hanya memahami satu ayat, sampaikanlah kepada orang lain. Walau mendapatkan ilmu dari khutbah Jum’at, sampaikanlah pula kepada orang lain. Jika menghadiri pengajian majlis taklim, datangilah sanak saudara lalu ceritakanlah apa yang Anda dapatkan dari pengajian tersebut.

  Imam Ahmad Ibn Hanbal berkata, “Orang yang mengetahui suatu permasalahan, ia dianggap pakar di bidang itu.”

  Kaum muda mungkin mengajukan keberatan lain, “Aku belum lama memakai jilbab dan masih banyak dosa yang menghalangiku untuk mendakwahi teman-temanku.”
Sekali lagi jangan jadikan dosa Anda sebagai penghalang untuk berdakwah.

  Allah SWT berfirman, “Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan sedangkan kamu melupakan diri (kewajibanmu sendiri). (QS Al Baqarah : 44)

  Yang dilarang oleh ayat itu adalah melupakan diri sendiri. Akan tetapi bila waktunya berdakwah menjadi haram? Iaitu ketika Anda menyuruh orang lain berbuat kebaikan sementara Anda tidak berusaha mengerjakannya. Sebagai contoh, seseorang belum bisa ghaddul bashar (menundukkan pandangannya) dan ia melihat orang lain tidak menundukkan pandangannya. Apakah harus melarangnya atau tidak? Tentu saja harus melarangnya. Katakan kepada orang itu, “Hai Fulan, tundukkan pandanganmu”, dan katakan kepada diri Anda sendiri, “Ya Allah, saksikanlah, mulai detik ini aku akan menjaga pandanganku.”

  Berdakwah sesungguhnya membantu Anda dalam memperbaiki diri Anda sendiri. Andalah yang lebih dahulu mengambil manfaat darinya. Oleh kerana, jika ingin memperbaharui iman, berdakwahlah! Setahap demi setahap keimanan itu akan kembali terbaharui.

  Imam Ibnu Taimiyah berkata, “jangan sekali-kali kalian berkata, “Aku tidak akan berdakwah sampai keimananku betul-betul sempurna.” Sesungguhnya orang itu dihadapkan kepada dua pilihan. Boleh jadi suatu hari nanti ia akan mengatakan “Imanku telah sempurna,” ketahuilah bahawa dengan berkata seperti itu, sesungguhnya ia telah atau ia akan menemui ajalnya sementara imannya belum juga sempurna.”

  Bagaimana solusinya? Berdakwahlah dengan keimanan Anda apa adanya. Menyebarkan Islam adalah tanggung jawab kita semua.

  “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS Ar Ra’d: 11)

  Islam tidak akan tampil memimpin dengan pedang, senjata dan perang. Islam hanya akan jaya dengan apa yang telah Rasulullah SAW rintis. Beliau dahulu seorang diri di muka bumi kemudian mencari pendamping. Mulailah Rasulullah SAW mendakwahi Abu Bakar ra. Mereka berdua eksis dan teguh di tengah-tengah masyarakat kafir ketika itu. Bagaimana dengan Anda? Bukankah satu seperempat milyar penduduk bumi ini sudah beridentiti muslim?

  Abu Bakar masuk Islam dan berhasil merekrut 7 orang lainnya. Dari 7 orang bertambah menjadi 70 orang. Enam orang penduduk Madinah mendatangi Rasulullah SAW, mereka berjanji, “Tahun depan kami akan kembali.” Mereka pun kembali tahun berikutnya sebanyak 12 orang. Satu tahun setelah itu jumlah mereka mencapai 73 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Nabi SAW menyuruh mereka kembali,” Pulanglah dan aku akan menemui kalian tahun depan.” Pada tahun yang dijanjikan itu, Nabi berhijrah dan tak satu rumah pun yang tersisa kecuali seluruh penghuninya telah memeluk Islam.

  Permasalahannya mudah dan sederhana. Ajak dan gugahlah orang di samping Anda dengan keimanan Anda apa adanya!

  “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang salih (di antara kamu) bahawa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.” (QS An Nur: 55)

 

  (Romantika Yusuf, Amru Khalid, Maghfirah Pustaka, 2004)