Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam suatu kerugian…. Masa yang bergilir meninggalkan erti tersendiri bagi manusia. Ada yang merasa cepat berlalu, bahkan ada yang merasakan begitu lambat beranjak. Perjalanan waktu menjadi relatif bagi perasaan makhluk bernama manusia.

Menyesallah manusia yang merasa kehilangan waktu dan berbahagialah yang mampu memanfaatkan waktu.

Rasulullah SAW telah bersabda:

“Tidak tergelincir dua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sehingga dia ditanya tentang empat perkara, iaitu tentang usianya pada apa saja ia menggunakannya, tentang masa mudanya pada apa saja ia menggunakannya, tentang hartanya dari mana saja ia mendapatkannya, dan ke mana ia membelanjakannya dan tentang ilmunya apa sajakah yang diamalkan dengan ilmu itu”. (HR Al Bazzar dan Ath Thabrani dengan sanad yang shahih dan lafadz pada At Thabrani)

Sesungguhnya manusia akan dimintai pertanggungjawabannya tentang karunia waktu yang telah diberikan Allah SWT di akhirat nanti.

Waktu istimewa dalam pergiliran siang – malam.

Dua puluh empat jam dalam sehari, setiap jamnya sama-sama terdiri dari 60 minit. Manusia yang tidak beriman menatap sama saja diantara jam-jam itu. Bagi mereka waktu adalah wang. Namun tidak demikian halnya bagi orang yang beriman. Bagi mereka waktu adalah pahala. Ada waktu-waktu yang diistimewakan oleh Allah SWT.

“Waktu di mana Rabb berada paling dekat dengan seorang hamba adalah bahagian akhir waktu malam. Jika engkau mampu menjadi orang yang mengingat Allah pada waktu itu, maka jadilah.” (HR Tirmidzi, Muslim dan Al Baghawi)

Waktu di sepertiga malam terakhir adalah waktu yang utama untuk bermunajat, mendekat kepada Allah.

“Adakah orang yang memohon ampun? maka Aku akan mengampuninya! Adakah orang yang bertaubat? maka Aku akan menerima taubatnya! Adakah orang yang meminta? Adakah orang yang berdoa? Demikianlah sehingga terbit fajar.” (HR Ahmad dan Muslim dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah)

Hari yang istimewa dalam satu minggu

Adalah hari raya mingguan untuk setiap muslim, hari di mana ada saat-saat ijabah untuk berdoa itulah hari Jumaat.

“Sesungguhnya barangsiapa berangkat menunaikan shalat Jumaat pada waktu yang pertama, maka ia seperti orang yang menyembelih korban seekor unta. Dan barangsiapa berangkat pada waktu yang kedua, maka ia seperti orang yang menyembelih seekor sapi. Gelombang berikutnya seperti orang yang berkorban dengan seekor kambing. Selanjutnya seperti orang yang berkorban dengan seekor ayam. Dan terakhir seperti orang yang berkorban dengan sebutir telor. Kemudian malaikat menggulung catatan ketika khatib naik ke atas mimbar.” (Hadits shahih).

Hari istimewa dalam satu tahun Hari yang dimaksudkan adalah hari-hari yang sepuluh dalam bulan Dzulhijjah.

“Tidak ada hari-hari yang beramal padanya lebih disukai Allah selain daripada hari-hari ini, yakni yang sepuluh itu. Mereka para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidakkah juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya dan tidak ada yang kembali dari semua itu sedikitpun.” (HR Bukhari)

Bulan istimewa dalam satu tahun

Salah satu bulan yang istimewa adalah bulan Ramadhan. Dari Ubadah bin Shamit disebutkan, Rasulullah SAW bersabda: “Telah datang kepadamu Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah meliputimu di bulan itu. Maka diturunkanlah rahmat, dihapuskanlah kesalahan-kesalahan dan diperkenankanlah doa. Allah memandang persainganmu di bulan itu sementara para malaikat Nya pun berbangga padamu. Maka perlihatkanlah kepada Allah kebaikan dari dirimu, kerana sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang dicegah di bulan itu dari mendapatkan rahmat Allah azza wajalla” (As Suyuti menyebutkan hadits ini dalam Al Jami’ul Kabir 1:8 dan menisbahkannya kepada At Thabrani dan Ibnu an Najjar).

Di antara hari-hari mulia di bulan Ramadhan ada hari yang lebih diutamakan lagi iaitu hari-hari yang sepuluh di akhir bulan. Hari-hari itu merupakan penutup bulan, oleh kerana amal perbuatan itu ditentukan oleh bahagian akhirnya. Selain itu kerana pada sepertiga akhir itu diperkirakan akan terjadi lailatul qodar. Malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Betapa tinggi kemuliaan itu seandainya kita mampu meraihnya.

Jika masa lalu ditengok untuk dijadikan pelajaran, masa depan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, maka lebih penting lagi seorang muslim memerhatikan masa kininya. Masa yang tengah dilaluinya agar dapat dijalani dengan sebaik-baiknya sebelum masa itu sirna.

Imam Abu Hamid Al Ghazali mengatakan dalam kitab Ihya’:
Masa itu ada tiga.

Pertama, masa yang tidak begitu melelahkan bagi hamba, bagaimanapun ia menghabiskannya. Apakah pada hal-hal yang sulit ataukah pada hal-hal yang mudah menyenangkan.

Kedua, masa yang akan datang yang belum menjelang, yang ia tidak tahu apakah ia boleh hidup sampai waktu itu atau tidak. Dan ia pun tak tahu apa yang akan diputuskan Allah pada waktu itu.

Ketiga, adalah masa kini, masa yang tergadaikan, yang ketika itu ia harus memperjuangkan dirinya kepada Tuhannya. Jika waktu yang kedua tidak datang kepadanya, maka ia tidak akan menyesali hilangnya waktu (masa) yang ini. Jika waktu yang kedua datang padanya, maka ia dituntut memenuhi haknya dari waktu yang pertama. Dan harapannya tidak akan berpanjangan sampai 50 tahun, maka berpanjanganlah tekad dan semangatnya untuk mengawasinya. Bahkan ia menjadi anak waktunya, seakan ia berada di akhir nafasnya, sementara ia sendiri tidak menyedarinya. Jika mungkin benar ini adalah akhir nafasnya, maka seharusnyalah ia berada pada sikap tidak membenci jika ia dijemput maut…”

Demikianlah cerminan orang yang memanfaatkan waktu yang tengah ia jalani sebaik-baiknya. Ia tidak akan menyesal jika esok tak dapat dijelangnya.

Manusia hanya boleh berusaha membahagi waktu sebaik-baiknya, mengintai waktu-waktu yang utama. Menempatkan masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang pada posisinya masing-masing, sehingga tidak dimasukkan sebagai manusia yang merugi.

Wahai manusia, berlumbalah dengan waktu dalam memperbanyakkan amalmu..!

(Sumber: Ash-Sholihah : Nikmat Waktu)