Dalam fiqh islam, shiyam itu terbagi 4 hukumnya : wajib, sunnah, makruh dan haram

I.       Puasa (Shaum) wajib

Terdiri dari :


1) shaum yang wajib dilakukan di bulan Ramadhan, termasuk qodho’ nya.


2) shaum kafarah (denda) dan


3) shaum nazar

Shaum kafarah : denda/sangsi, misalnya kerana suami isteri yang berhubungan di bulan ramadhan.


Ada 3 tingkatan shaum kafarah :


1) memerdekakan hamba (! sekarang hamba sudah tidak ada)


2) shaum 2 bulan berturut-turut. Bila tidak mampu melaksanakannya, baru


3) memberi makan orang miskin.

Dari sini bisa kita mengerti, bahawa bulan suci ramadhan adalah bulan yg tidak boleh tercemari dengan perbuatan-perbuatan yang merosak kemuliaan bulan itu sendiri.

Shaum kafarah yang lain adalah kafarah sumpah, misalnya apabila seseorang melanggar sumpahnya, kemudian beberapa bulan kemudian dia melanggar sumpahnya, maka dia wajib membayar kafarah sumpahnya.


Kafarah sumpah itu  :


1) memerdekakan hamba


2) memberi makan 10 orang miskin


3) puasa 3 hari


Oleh kerana itu, bila kita mengucapkan sumpah dengan menyebut nama Allah dan tidak dilaksanakan, wajib shaum kafarah. Shaum kafarah lainnya adalah kafarah haji, kafarah bagi zihar, ila` (dalam hubungan suami isteri), membunuh tanpa sengaja.

Bila tidak sengaja membunuh, di samping dhiyat (bayar ganti rugi), konsekuensinya :


1) memerdekakan hamba


2) taubat dengan shaum 2 bulan berturut-turut. Membunuh tanpa sengaja ini misalnya tidak sengaja memukul seseorang hingga meninggal.

II. Shaum Sunah


Shaum sunah terdiri dari :

1) Shaum 6 hari di bulan Syawal. Kata Nabi, barang siapa yang shaum pada bulan Ramadhan diiringi 6 hari di bulan Syawal maka seakan-akan ia shaum sepanjang masa.


2) Shaum Hari Arafah tanggal 9 Zulhijah, atau Shaum Asy-Syura tanggal 10 Muharam,


3) Shaum di bulan Sya’ban. Kata Aisyah., shaum di bulan Sya`ban ini banyak sekali dilakukan oleh Rasulullah.


4) Shaum Isnin dan Khamis. Kenapa di kedua hari itu? Kata Abu Hurairah, Rasul pernah ditanya kenapa Isnin dan khamis, jawab beliau, pada kedua hari itu amalan2 seorang hamba diangkat kepada Allah.


5) Shaum 3 hari di tiap bulan (shaum Ayyamul Bidh) tanggal 13, 14, 15 setiap bulan pada kalendar Hijriah. Kenapa pada ketiga tanggal itu? Dikatakan pada ketiga tanggal itu adalah saat bulan pertama air laut pasang dan mempengaruhi tingkat emosi, dan itu bisa diatasi dengan shaum. Itu dari sisi ilmiah. Dari sisi mistiknya, walaupun belum terbukti, dikatakan bahawa sihir atau santau itu mudah sekali sampai pada tujuannya pada saat bulan purnama, oleh kerana itu shaum diperlukan sebagai preventif.


6) Shaum Nabi Daud. Ini adalah shaum sunah yang paling baik. Bila ada shaum sunah dilakukan di luar ke-6 shaum ini, maka tidak dikategorikan shaum sunah, kerana kita sering melihat shaum yang dilakukan masyarakat tapi niatnya diluar shaum2 di atas.

Syarat diterimanya amal seseorang ada 2 :


1) Niat yang ikhlas dan


2) sesuai dengan yang diajarkan (sunah) Rasulullah

III. Shaum yang haram

Terdiri dari :


1. Shaum pada tanggal 1 Syawal (hari raya Idul Fitri)


2. Shaum pada hari Haji


3. Shaum pada hari Tasyrik (11, 12, 13 Zulhijah)

IV. Shaum yang makruh

Makruh adalah sesuatu perbuatan yang tidak disukai Allah. Shaum-shaum makruh antara lain :

1)      Shaum sebulan penuh pada bulan Rajab, atau pada sabtu saja atau pada jum`at saja,


2)      Shaum pada hari yang syak, hari yang diragukan (hari ke 30 Sya’ban).


3)      Shaum pada tahun baru (tanggal 1 Muharram) atau shaum pada hari raya orang kafir


4)      Shaum Wishol, shaum tanpa berbuka berhari-hari. Istilahnya mogok makan, tidak makan minum! berhari-hari. Ada 3 hal kerugian :


a.       Kerana tidak ada sunnahnya –> tidak mendapat pahala


b.       menzhalimi dirinya sendiri


c.       kalau permintaannya tidak diperkenankan oleh pemerintah, rugi sendiri


5)  Shaum Zahar iaitu shaum satu tahun penuh. Shaum ini tidak disukai oleh Allah. Kata Rasulullah, “tidak dianggap berpuasa orang yang berpuasa selamanya.”


6) Shaum sunnah isteri tanpa izin suaminya. Dalam hadis Mutafaq`alaihi, kata Nabi, “janganlah seorang wanita shaum ketika suaminya ada di sisinya, melainkan ada izinnya, kecuali pada bulan Ramadhan.”

Sumber : http://www.fahima.org